Takut Itu Wajar
Perang Mu’tah, adalah perang yang secara rasio
tak akan membuat manusia optimis apalagi
yakin dengan kemenangan yang dijanjikan.
Bayangkan saya, jumlah pasukan Romawi yang
berkumpul pada hari itu lebih dari 200.000
tentara, lengkap dengan baju perang yang
gagah, panji-panji dari kain sutra, senjata-
senjata yang perkasa, lalu dengan kuda-kuda
yang juga siap dipacu.
Abu Hurairah bersaksi atas perang ini. ”Aku
menyaksikan Perang Mu’tah. Ketika kami
berdekatan dengan orang-orang musyrik. Kami
melihat pemandangan yang tiada bandingnya.
Jumlah pasukan dan senjatanya, kuda dan kain
sutra, juga emas. Sehingga mataku terasa silau,”
ujar Abu Hurairah.
Sebelum melihatnya, pasukan para sahabat yang
hanya berjumlah 3.000 orang-orang beriman,
sudah mendengar kabar tentang besarnya
pasukan lawan. Sampai-sampai mereka
mengajukan berbagai pendapat, untuk
memikirkan jalan keluar. Ada yang berpendapat
agar pasukan Islam mengirimkan surat kepada
Rasulullah saw, mengabarkan jumlah musuh
yang dihadapi dan berharap kiriman bala
bantuan lagi. Banyak sekali usulan yang
mengemuka, sampai kemudian Abdullah ibnu
Rawahah yang diangkap sebagai panglima
pertama berkata di depan pasukan.
”Demi Allah, apa yang kalian takutkan?
Sesungguhnya apa yang kalian takutkan adalah
alasan kalian keluar dari pintu rumah, yakni
gugur sebagai syahid di jalan Allah. Kita
memerangi mereka bukan karena jumlahnya,
bukan karena kekuatannya. Majulah ke medan
perang, karena hanya ada dua kemungkinan
yang sama baiknya, menang atau syahid!”
Pidato perang yang singkat, tapi sangat
menggetarkan. Seperti yang kita tahu dalam
sejarah, sebelum berangkat Rasulullah berpesan
pada pasukan. Jika Zaid bin Haritsah terkena
musibah, maka panglima akan diserahkan
kepada Ja’far bin Abi Thalib. Dan jika Ja’far bin
Abi Thalib juga terkena musibah, maka Abdullah
ibnu Rawahah yang menggantikannya.
Mahasuci Allah
dengan segala
tanda-tanda-Nya. Perkataan Rasulullah benar
terbukti, sebagai salah satu tanda-tanda
kebesaran Allah. Zaid bin Haritsah syahid dalam
peperangan ini. Kemudian panji-panji Rasulullah
dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib. Panglima
pasukan kaum Muslimin ini menunggangi kuda
yang berambut pirang, bertempur dengan gagah.
Di tengah-tengah peperangan ia bersenandung
riang:
Duhai dekatnya surga
Harum dan dingin minumannya
Orang Romawi telah dekat dengan azabnya
Mereka kafir dan jauh nasabnya
Jika bertemu, aku harus membunuhnya
Dalam situasi perang, sungguh tak banyak
pilihan. Menjadi yang terbunuh atau menjadi
yang bertahan. Maka tentu saja senandung
Ja’far ra berbunyi demikian. Tangan kanan
Ja’far terputus karena tebasan pedang ketika
mempertahankan panji pasukan. Kini tangan
kirinya yang memegang. Tangan kirinya pun
terbabat pula oleh tebasan. Sehingga panji-panji
Islam dipegangnya dengan lengan atasnya yang
tersisa hingga Ja’far ditakdirkan menemui
syahidnya.
Ibnu Umar ra bersaksi, ”Aku sempat mengamati
tubuh Ja’far yang terbujur pada hari itu. Aku
menghitung ada 50 luka tikaman dan sabetan
pedang yang semuanya ada dibagian depan dan
tak satupun luka berada di bagian belakang.”
Semoga Allah membalasnya dengan sayap yang
kelak akan membuatnya terbang kemanapun dia
suka.
Kini tiba giliran Abdullah ibnu Rawahah tampil
ke depan untuk mengambil tanggung jawab,
memimpin pasukan dan mengangkat panji-panji
Islam. Ada kegundahan dalam hati dan
pikirannya, karenanya Ibnu Rawahah memompa
sendiri keberanian di dalam hatinya:
Aku bersumpah wahai jiwaku, turunlah!
Kamu harus turun atau kamu akan dipaksa
Bila manusia bersemangat dan bersuara
Mengapa aku melihatmu enggan terhadap surga
Dalam kalimat-kalimat syairnya di tengah laga,
tergambar bahwa ada kegalauan dalam jiwa
Abdullah ibnu Rawahah. Tentu saja hanya Allah
yang Mengetahui. Apalagi dua sahabatnya, telah
pergi mendahului. Melihat dua jasad mulia
sahabatnya, Abdullah ibnu Rawahah kembali
berkata:
Wahai jiwaku
Jika tidak terbunuh kamu juga pasti mati
Ini adalah takdir kan telah kau hadapi
Jika kamu bernasib seperti mereka berdua
Berarti kamu mendapat hidayah
Lalu kemudian, Abdullah ibnu Rawahah juga
bertemu dengan syahidnya. Ini memang kisah
tentang perang. Tapi sesungguhnya hikmah dan
teladan yang ada di dalamnya, bermanfaat
dalam semua peristiwa kehidupan. Dalam
perang, tak ada sikap yang bisa disembunyikan.
Pemberani, ketakutan, risau dan kegalauan,
cerdik dan penuh akal, atau orang-orang yang
selalu menghindar. Semua terlihat nyata. Tak
ada yang bisa disembunyikan!
Takut, risau dan galau, sungguh adalah perasaan
wajar yang muncul karena fitrah. Dalam sebuah
periode kehidupan, kita seringkali merasakannya.
Meski begitu, bukan pula alasan kita menghindar
dari sesuatu yang harus kita taklukkan karena
rasa takut, risau dan galau yang lebih menang.
Kemudian kita mencari-cari alasan dengan
menyebutnya dengan dalih strategi dan langkah
pintar. Menunduk untuk menanduk, atau yang
lainnya.
Gunung-gunung harus didaki, laut dan samudera
harus diseberangi, lembah dan ngarai harus
dijelajahi. Tantangan hidup harus ditaklukan
bukan dihindari. Dan tujuan besar hidup kita
sebagai seorang Muslim adalah menegakkan
kebenaran dan menyebarkan kebaikan.
Berbuat kebaikan dan mencegah manusia dari
kemunkaran, harus dilakukan, betapapun
pahitnya balasan yang akan didapatkan.
Ketakutan, risau dan galau akan selalu datang.
Tapi berkali-kali pula kita harus mampu
mengalahkan mereka dan berkata pada diri
sendiri. Meniru ulang apa yang dikatakan
sahabat Abdullah ibnu Rawahah dengan gagah
pada hati dan akalnya, ”Apakah engkau enggan
pada nikmat Allah yang Maha Tinggi?!” Wallahu
a’lam bi shawab.
Kisah inspirasi ini ditulis oleh ustadz Herry Nurdi
dalam situs beliau yang luar biasa di http://
www.penerang.com
kisah dan foto diambil dari situs http://
penerang.com/2010/10/12/takut-itu-wajar/
Sabtu, 30 April 2016
Takut itu Wajar
10 ribu mengArtikan bagaimana caranya bersyukur
10 Ribu Rupiah Membuat Anda
Mengerti Cara Bersyukur
kisah inpirasi .com ~ Ada seorang sahabat
menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman.
Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya
berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di
sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-
tangan mereka sarat dengan tas plastik
belanjaan.
Baru saja mereka keluar dari toko swalayan,
istri Budiman dihampiri seorang wanita
pengemis yang saat itu bersama seorang putri
kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada
istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"
Istri Budiman kemudian membuka dompetnya
lalu ia menyodorkan selembar uang kertas
berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu
menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak
mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan
jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian
pengemis itu memegang kepala anaknya dan
sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang
terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin
berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari
tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli
makanan!"
Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri
Budiman pun membalas isyarat dengan gerak
tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku
tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"
Ironisnya meski tidak menambahkan
sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah
menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk
membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama
Budiman berjalan ke arah ATM center guna
mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang
tanggal gajian, karenanya Budiman ingin
mengecek saldo rekening dia.
Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam
mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI
SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit
angka yang membuat Budiman menyunggingkan
senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya
sudah masuk ke dalam rekening.
Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan
jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu
berwarna merah kini sudah menyesaki
dompetnya. Lalu ada satu lembar uang
berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10
ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu
Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan
wanita pengemis yang tadi meminta tambahan
sedekah.
Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang
yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun
berucap syukur kepada Allah dan berterima
kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat
penuh kesungguhan: "Alhamdulillah...
Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih
tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat
untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi
kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan
keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah,
mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis
dan anak-anak yang shaleh dan shalehah.
Semoga tuan dan keluarga juga diberi
kedudukan yang terhormat kelak nanti di
surga...!"
Budiman tidak
menyangka ia akan
mendengar respon yang begitu mengharukan.
Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya
akan berucap terima kasih saja. Namun, apa
yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi
sungguh membuat Budiman terpukau dan
membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar
wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik,
Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!"
Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu
kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap
tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa
makan. Sejurus kemudian mata Budiman
membuntuti kepergian mereka berdua yang
berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah
warung tegal untuk makan di sana.
Budiman masih terdiam dan terpana di tempat
itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan
keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini
mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui
itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya.
Dengan suara yang agak berat dan terbata
Budiman menjelaskan: "Aku baru saja
menambahkan sedekah kepada wanita tadi
sebanyak 10 ribu rupiah!"
Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju
tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi
tambahan sedekah kepada wanita pengemis.
Namun Budiman kemudian melanjutkan
kalimatnya:
"Bu..., aku memberi sedekah kepadanya
sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap
hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada
Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku,
mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita.
Panjaaaang sekali ia berdoa!
Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt
sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya
bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di
ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di
sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan
ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat
saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan
tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa
berucap hamdalah.
Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya
10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah
dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang
demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam
surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu
dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku
yang menerima jumlah lebih banyak dari itu
namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah."
Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara
yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata
yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas
setelah menyadari betapa selama ini kurang
bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah
kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas
segala nikmat-Mu
kisah diambil dari http://myquran.org/forum/
index.php/topic,82145.0.html di posting oleh
andy swan
gambar dari http://mathedu-
unila.blogspot.com/2010/07/gambar-uang-10-
ribu-baru.html
Kisah inspiratif, Pepaya
Ha kisah inspirasi .com ~ Saya ingin mengawali
renungan kita kali ini dengan mengingatkan
pada salah satu kisah kehidupan yang mungkin
banyak tercecer di depan mata kita. Cerita ini
tentang seorang kakek yang sederhana, hidup
sebagai orang kampung yang bersahaja. Suatu
sore, ia mendapati pohon pepaya di depan
rumahnya telah berbuah. Walaupun hanya dua
buah namun telah menguning dan siap dipanen.
Ia berencana memetik buah itu di keesokan
hari. Namun, tatkala pagi tiba, ia mendapati satu
buah pepayanya hilang dicuri orang.
Kakek itu begitu bersedih, hingga istrinya
merasa heran. “masak hanya karena sebuah
pepaya saja engkau demikian murung” ujar sang
istri.
“bukan itu yang aku sedihkan” jawab sang
kakek, “aku kepikiran, betapa sulitnya orang itu
mengambil pepaya kita. Ia harus sembunyi-
sembunyi di tengah malam agar tidak ketahuan
orang. Belum lagi mesti memanjatnya dengan
susah payah untuk bisa memetiknya..”
“dari itu Bune” lanjut sang kakek, “saya akan
pinjam tangga dan saya taruh di bawah pohon
pepaya kita, mudah-mudahan ia datang kembali
malam ini dan tidak akan kesulitan lagi
mengambil yang satunya”.
Namun saat pagi kembali hadir, ia mendapati
pepaya yang tinggal sebuah itu tetap ada
beserta tangganya tanpa bergeser sedikitpun. Ia
mencoba bersabar, dan berharap pencuri itu
akan muncul lagi di malam ini. Namun di pagi
berikutnya, tetap saja buah pepaya itu masih di
tempatnya.
Di sore harinya, sang kakek kedatangan seorang
tamu yang menenteng duah buah pepaya besar
di tangannya. Ia belum pernah mengenal si tamu
tersebut. Singkat cerita, setelah berbincang
lama, saat hendak pamitan tamu itu dengan
amat menyesal mengaku bahwa ialah yang telah
mencuri pepayanya.
“Sebenarnya” kata sang tamu, “di malam
berikutnya saya ingin mencuri buah pepaya yang
tersisa. Namun saat saya menemukan ada
tangga di sana, saya tersadarkan dan sejak itu
saya bertekad untuk tidak mencuri lagi. Untuk
itu, saya kembalikan pepaya Anda dan untuk
menebus kesalahan saya, saya hadiahkan
pepaya yang baru saya beli di pasar untuk
Anda”.
Hikmah yang bisa diambil dari kisah inspirasi
diatas, adalah tentang keikhlasan, kesabaran,
kebajikan dan cara pandang positif terhadap
kehidupan.
Mampukah kita tetap bersikap positif saat kita
kehilangan sesuatu yang kita cintai dengan
ikhlas mencari sisi baiknya serta melupakan
sakitnya suatu “musibah”?
"Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak
berterima kasih kepada Tuhannya, dan
sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri)
keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat
bakhil karena cintanya kepada harta."
Kisah inspirasi diatas dikutip dari khutbah yang
ditulis oleh ustadz Saiful Amien. Diambil dari
http://malang.muhammadiyah.or.id/muhfile/
malang/file/artikel/Mengakhlaqkan%20Cara
%20Pandang.doc Gambar pohon pepaya dari
http://mahaguru58.multiply.com/journal
-->
Karena ukuran kita tak sana
Karena Ukuran Kita Tak Sama
Oleh Salim A. Fillah
"seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya memaksakan tapal kecil untuk telapak besar
akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil
merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan
berbaris rapi-rapi"
Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah
padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan
hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-
ranting menyala dalam tiupan angin yang keras
dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari.
Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang
beterbangan dengan surbannya, mengejar dan
menggiring seekor anak unta.
Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri
sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik,
’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil
melantun Al Quran, dengan menyanding air
sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki
nan berlari-lari itu dan mengenalnya,
“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu
Amirul Mukminin?!”
Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al
Khaththab.
”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat
tenaga dari pintu dangaunya,
“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini?
Masuklah kemari!”
Dinding dangau di samping Utsman berderak
keras diterpa angin yang deras.
”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya.
Aku takut Allah akan menanyakannya padaku.
Aku akan menangkapnya. Masuklah hai
‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan.
Suaranya bersiponggang menggema memenuhi
lembah dan bukit di sekalian padang.
“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh
pembantuku menangkapnya untukmu!”.
”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman!
Masuklah!”
“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah,
Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“
“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau
hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai
pasirnya mengganas!”
Angin makin kencang membawa butiran pasir
membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup
pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya &
bergumam,
”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau
memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi
terpercaya.”
‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga
sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing
menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.
‘Umar, jagoan yang
biasa bergulat di
Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan
keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin
kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan,
tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun
gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas
kepemimpinannya.
‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang
kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah
yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman
sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya
‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari
bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan
diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa
malulah yang menjadi akhlaq cantiknya.
Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan
yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh
sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak
pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya
bertimbun dinar.
Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka
berbeda.
Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa
‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian
perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya.
Hidup sederhana ketika menjabat sebagai
Khalifah misalnya.
“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di
mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di
Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung
tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut
Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga
puluh dua jahitan.”
Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-
ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar
belakang yang berlainan. Maka tindak utama
yang harus kita punya adalah; jangan mengukur
orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik
tokoh lain lagi.
Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia
tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa
sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada
dalam angannya.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus
pada saudara yang sedang diberi amanah
memimpin umat. Tetapi jangan membebani
dengan cara membandingkan dia terus-menerus
kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada
saudara yang tengah diamanahi kekayaan.
Tetapi jangan membebaninya dengan cara
menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya
‘Abdurrahman ibn ‘Auf.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat
saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan
membuatnya merasa berat dengan menuntutnya
agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai
bahawa Ibrani dalam empat belas hari.
Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk
menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi
menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain
pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib
yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban
yang telak dan lucu.
“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar”
kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu
tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di
masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin,
keadaanya begini kacau dan rusak?”
“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada
zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti
aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”
Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan
generasi Salaf memang ada untuk kita teladani.
Tetapi caranya bukan menuntut orang lain
berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar,
“Utsman atau ‘Ali.
Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi
Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah
dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah
diri kita sebagai orang paling berhak meneladani
mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku
sebagaimana para salafush shalih dan sesudah
itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak
mengikuti.
Sebab teladan yang masih menuntut sesama
untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan
makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita
teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.
Ialah teladan yang memahami bahwa masing-
masing hati memiliki kecenderungannya,
masing-masing badan memiliki pakaiannya dan
masing-masing kaki mempunyai sepatunya.
Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan
membawa damai. Dalam damai pula
keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang
masa.
Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima
bahwa sudut pandang orang lain adalah juga
sudut pandang yang absah. Sebagai sesama
mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”.
Istilah yang tepat adalah “shawab” dan
“khatha”.
Tempaan pengalaman yang tak serupa akan
membuatnya lebih berlainan lagi antara satu
dengan yang lain.
Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita
pahami, itu tidak seharusnya membuat kita
terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.
Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini
dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar
beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan.
Adapun pendapat orang lain itu salah, namun
bisa jadi mengandung kebenaran.”