Sabtu, 30 April 2016

Karena ukuran kita tak sana

Karena Ukuran Kita Tak Sama
Oleh Salim A. Fillah
"seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya memaksakan tapal kecil untuk telapak besar
akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil
merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan
berbaris rapi-rapi"
Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah
padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan
hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-
ranting menyala dalam tiupan angin yang keras
dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari.
Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang
beterbangan dengan surbannya, mengejar dan
menggiring seekor anak unta.
Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri
sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik,
’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil
melantun Al Quran, dengan menyanding air
sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki
nan berlari-lari itu dan mengenalnya,
“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu
Amirul Mukminin?!”
Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al
Khaththab.
”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat
tenaga dari pintu dangaunya,
“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini?
Masuklah kemari!”
Dinding dangau di samping Utsman berderak
keras diterpa angin yang deras.
”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya.
Aku takut Allah akan menanyakannya padaku.
Aku akan menangkapnya. Masuklah hai
‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan.
Suaranya bersiponggang menggema memenuhi
lembah dan bukit di sekalian padang.
“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh
pembantuku menangkapnya untukmu!”.
”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman!
Masuklah!”
“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah,
Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“
“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau
hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai
pasirnya mengganas!”
Angin makin kencang membawa butiran pasir
membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup
pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya &
bergumam,
”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau
memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi
terpercaya.”
‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga
sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing
menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.
‘Umar, jagoan yang
biasa bergulat di
Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan
keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin
kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan,
tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun
gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas
kepemimpinannya.
‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang
kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah
yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman
sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya
‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari
bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan
diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa
malulah yang menjadi akhlaq cantiknya.
Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan
yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh
sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak
pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya
bertimbun dinar.
Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka
berbeda.
Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa
‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian
perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya.
Hidup sederhana ketika menjabat sebagai
Khalifah misalnya.
“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di
mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di
Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung
tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut
Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga
puluh dua jahitan.”
Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-
ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar
belakang yang berlainan. Maka tindak utama
yang harus kita punya adalah; jangan mengukur
orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik
tokoh lain lagi.
Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia
tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa
sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada
dalam angannya.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus
pada saudara yang sedang diberi amanah
memimpin umat. Tetapi jangan membebani
dengan cara membandingkan dia terus-menerus
kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada
saudara yang tengah diamanahi kekayaan.
Tetapi jangan membebaninya dengan cara
menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya
‘Abdurrahman ibn ‘Auf.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat
saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan
membuatnya merasa berat dengan menuntutnya
agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai
bahawa Ibrani dalam empat belas hari.
Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk
menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi
menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain
pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib
yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban
yang telak dan lucu.
“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar”
kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu
tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di
masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin,
keadaanya begini kacau dan rusak?”
“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada
zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti
aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”
Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan
generasi Salaf memang ada untuk kita teladani.
Tetapi caranya bukan menuntut orang lain
berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar,
“Utsman atau ‘Ali.
Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi
Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah
dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah
diri kita sebagai orang paling berhak meneladani
mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku
sebagaimana para salafush shalih dan sesudah
itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak
mengikuti.
Sebab teladan yang masih menuntut sesama
untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan
makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita
teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.
Ialah teladan yang memahami bahwa masing-
masing hati memiliki kecenderungannya,
masing-masing badan memiliki pakaiannya dan
masing-masing kaki mempunyai sepatunya.
Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan
membawa damai. Dalam damai pula
keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang
masa.
Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima
bahwa sudut pandang orang lain adalah juga
sudut pandang yang absah. Sebagai sesama
mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”.
Istilah yang tepat adalah “shawab” dan
“khatha”.
Tempaan pengalaman yang tak serupa akan
membuatnya lebih berlainan lagi antara satu
dengan yang lain.
Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita
pahami, itu tidak seharusnya membuat kita
terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.
Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini
dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar
beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan.
Adapun pendapat orang lain itu salah, namun
bisa jadi mengandung kebenaran.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar